President Resto : Taman Nasional Sebangau, Rumah Orang Utan
Di dekat Kota Palangka Raya terbentang hutan rawa gambut yang luas, yaitu Taman Nasional Sebangau. Kawasan seluas sekitar 568.700 hektare ini mencakup tiga wilayah: Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau.
Banyak warga mengenal Sebangau hanya dari kabar kabut asap atau kebakaran lahan. Padahal, kawasan ini juga rumah bagi orang utan, bekantan, beruang madu, dan berbagai satwa lain. Dalam artikel dari President Resto ini, kita akan mengenal Taman Nasional Sebangau lebih dekat, mulai dari fakta penting, ancaman terbesarnya, hingga cara warga ikut menjaganya.
Hutan Rawa Gambut yang Membentang di Tiga Wilayah
Taman Nasional Sebangau ditunjuk sebagai kawasan pelestarian alam melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 423/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004, saat itu dengan luas 567.800 hektare. Luas kawasan yang dicatat Kompas.com sekarang sekitar 568.700 hektare.
Selain orangutan, penghuni Taman Nasional Sebangau mencakup bekantan, beruang madu, owa-owa, burung rangkong, dan monyet ekor panjang.
Rumah Ribuan Orangutan Kalimantan
Survei pengelola kawasan mencatat populasi orangutan sekitar 5.400 individu pada 2006 dan 5.826 individu pada 2015 untuk seluruh kawasan. Pada Mei 2026, pihak Balai menyebut kawasan ini menjadi rumah bagi sekitar 8.000 individu dan salah satu habitat orangutan terbesar di dunia. Perbedaan angka tersebut mengingatkan kita bahwa populasi satwa liar memang sulit dihitung secara pasti. Di kawasan Punggualas seluas 1.176 hektare, misalnya, diperkirakan tinggal 40–60 orangutan. Satu hal yang pasti, orangutan adalah primata endemik yang terancam punah sehingga habitatnya harus dijaga.
Gambut Taman Nasional Sebangau Menyimpan Karbon dan Air
Lahan gambut berfungsi sebagai gudang karbon alami. Menurut pengelola kawasan, gambut yang rusak akibat pembakaran akan melepaskan karbon tersimpan ke udara sebagai gas rumah kaca. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi tumbuhan endemik seperti ramin dan belangeran yang kini semakin langka. Manfaatnya pun dirasakan jauh melampaui Kalimantan Tengah. Menjaga gambut berarti menjaga cadangan karbon, sumber air, dan keanekaragaman hayati sekaligus.
Ancaman Terbesar: Kebakaran Hutan dan Lahan
Ancaman yang paling dikenal warga Palangka Raya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data Satuan Tugas Karhutla Kota Palangka Raya, hingga Oktober 2023 tercatat 635 kejadian karhutla di kota ini.
Setiap kebakaran di lahan gambut berarti karbon yang tersimpan selama waktu yang panjang terlepas ke atmosfer. Karena itu, pencegahan jauh lebih penting daripada pemadaman. Kawasan seperti Sebangau membutuhkan dukungan masyarakat agar tetap basah, hijau, dan aman dari api.
Wisata Edukasi: Menyusuri Kanal Air Hitam Punggualas
Sebagian kawasan Sebangau kini dikenal sebagai tujuan wisata edukasi. Hutan Punggualas di Kabupaten Katingan, yang dahulu rawan pembalakan liar, kini menjadi objek wisata dengan masyarakat setempat sebagai pemandu. Pengunjung menaiki perahu kelotok melewati kanal air hitam hutan gambut hingga tiba di kamp pengawas milik pengelola taman nasional dan WWF.
Sebelum berkunjung, pastikan Anda menghubungi pengelola resmi, yaitu Balai Taman Nasional Sebangau, untuk memperoleh informasi akses dan aturan kunjungan terbaru.
Cara Warga Kota Ikut Menjaga Sebangau
Anda tidak perlu tinggal di tepi hutan untuk membantu. Beberapa langkah sederhana ini bisa dimulai dari rumah:
- Jangan membakar lahan atau sampah, terutama pada musim kemarau.
- Laporkan titik api kepada pihak berwenang setempat, seperti Satgas Karhutla, sesegera mungkin.
- Dukung wisata resmi yang melibatkan pemandu lokal dan mengikuti aturan taman nasional.
- Jangan membeli atau memelihara satwa liar dan tumbuhan yang dilindungi.
- Kurangi sampah, khususnya plastik sekali pakai, agar tidak mencemari sungai dan lahan basah.
- Bagikan informasi yang akurat tentang Sebangau kepada keluarga dan teman.
Setelah menyimak kisah tentang hutan gambut ini, tak ada salahnya Anda meluangkan waktu untuk menikmati semangkuk Bubur Ayam hangat di President Resto sambil merenungkan betapa berharganya alam di sekitar Palangka Raya.
Kesimpulan
Taman Nasional Sebangau bukan sekadar hamparan hutan di tepi kota. Kawasan ini merupakan gudang karbon, penjaga sumber air, dan rumah bagi ribuan orang utan serta satwa langka lainnya. Di sisi lain, ancaman karhutla menunjukkan bahwa keberlanjutannya bergantung pada kepedulian kita semua.
Mari mulai dari langkah kecil: tidak membakar, ikut melapor, dan membagikan informasi yang benar. Dengan begitu, Taman Nasional Sebangau tetap lestari bagi generasi berikutnya, dan Palangka Raya tetap menjadi kota yang bangga akan hutan gambutnya.
Referensi
- Kompas.com. (2023, 23 Mei). Daftar Taman Nasional di Pulau Kalimantan. https://lestari.kompas.com/read/2023/05/23/130000286/daftar-taman-nasional-di-pulau-kalimantan?page=all
- Mongabay Indonesia. (2023, 4 November). Usia 40 Tahun, Orangutan Kalimantan Ini Melahirkan Bayi Keempat. https://mongabay.co.id/2023/11/04/usia-40-tahun-orangutan-kalimantan-ini-melahirkan-bayi-keempat/
- Mongabay Indonesia. (2016, 20 Agustus). Naik Status, Perlindungan Orangutan Kalimantan dan Habitatnya Harus Serius. https://mongabay.co.id/2016/08/20/naik-status-perlindungan-orangutan-kalimantan-dan-habitatnya-harus-serius/
- RRI Palangka Raya. (2026, 18 Mei). WWF Indonesia Dukung Konservasi Orangutan dan Penguatan Hutan Adat di Sebangau. https://rri.co.id/palangkaraya/regional/2422469/wwf-indonesia-dukung-konservasi-orangutan-dan-penguatan-hutan-adat-di-sebangau
- RRI Palangka Raya. (2026). Kelestarian Gambut Sebangau Penopang Iklim dan Keanekaragaman Hayati Indonesia. https://rri.co.id/palangkaraya/berita-lain/2623835/kelestarian-gambut-sebangau-penopang-iklim-dan-keanekaragaman-hayati-indonesia
- Good News from Indonesia. (2023, 27 Februari). Hutan Punggualas, Metamorfosis Wilayah Pembalakan Liar Jadi Obyek Wisata. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/02/27/hutan-punggualas-metamorfosis-wilayah-pembalakan-liar-jadi-obyek-wisata
