President Resto : 5 Fakta Sampah Makanan di Indonesia dan Cara Menguranginya
Pernahkah Anda menyisakan beberapa sendok nasi di piring, lalu menganggapnya hal yang wajar? Kebiasaan kecil itu tampak sepele. Namun, jika dikalikan dengan jutaan meja makan di seluruh negeri, hasilnya menjadi persoalan lingkungan yang serius. Menurut kajian Bappenas bersama Waste4Change dan WRI Indonesia, sampah makanan di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun pada periode 2000–2019.
Bagi restoran mana pun, termasuk President Resto di Palangka Raya, makanan bukan hanya soal rasa. Setiap hidangan layak dinikmati sampai suapan terakhir. Karena itu, artikel ini mengulas lima fakta tentang sampah makanan berdasarkan data resmi, kemudian menutupnya dengan langkah sederhana yang dapat Anda lakukan saat bersantap.
Fakta 1: Sampah Makanan Indonesia Mencapai 23–48 Juta Ton per Tahun
Kajian Food Loss and Waste diluncurkan pada 9 Juni 2021. Kajian itu dikerjakan Bappenas bersama Waste4Change dan World Resources Institute (WRI) Indonesia, dengan dukungan pemerintah Inggris melalui UK-FCDO. Hasilnya menunjukkan bahwa sepanjang 2000–2019 Indonesia membuang 23–48 juta ton makanan per tahun, setara dengan 115–184 kilogram per orang setiap tahun.
Angka tersebut gabungan dua kelompok. Food loss adalah makanan yang hilang pada tahap produksi, pasca panen, penyimpanan, serta pemrosesan dan pengemasan. Adapun food waste adalah makanan yang terbuang pada tahap distribusi, pemasaran, dan konsumsi, termasuk sisa di piring.
Fakta 2: Kerugian Ekonominya Setara 4–5 Persen PDB
Makanan yang terbuang bukan sekadar sisa. Nilai ekonominya diperkirakan Rp213–551 triliun per tahun, atau sekitar 4–5 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dari sisi sosial, energi yang hilang bersama makanan tersebut setara dengan kebutuhan pangan 61–125 juta orang per tahun.
Bappenas menghitung nilai itu dengan mengalikan volume makanan terbuang pada setiap tahap rantai pasok dengan harga komoditasnya. Karena keterbatasan data, perhitungan hanya mencakup sebagian dari 146 komoditas pangan nasional, sehingga kerugian sesungguhnya bisa berbeda
Fakta 3: Sampah Makanan Ikut Menambah Emisi Gas Rumah Kaca
Dampak sampah makanan tidak berhenti di dompet. Menteri PPN/Kepala Bappenas saat itu, Suharso Monoarfa, menyebut bahwa sampah makanan pada periode kajian menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 1.702,9 megaton setara CO₂. Secara umum, makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA) melepaskan gas metana, salah satu gas rumah kaca.
Data nasional yang dikutip Republika menunjukkan gambaran serupa. Pada 2022, Indonesia mencatat 69,2 juta ton sampah, dan 41,27 persen diantaranya berupa sampah pangan. Sekitar 38,28 persen sumber sampah tersebut berasal dari rumah tangga.
Fakta 4: Porsi Sampah Makanan dari Tahap Konsumsi Justru Naik
Badan Pangan Nasional mencatat tren yang menarik. Bagian food loss turun dari 61 persen pada 2000 menjadi 45 persen pada 2019, sedangkan bagian food waste naik dari 39 persen menjadi 55 persen pada periode yang sama. Artinya, makin besar bagian makanan yang terbuang setelah makanan itu sampai ke pasar, dapur, dan meja makan.
Bappenas menyoroti salah satu penyebabnya, yaitu anggapan di sebagian masyarakat bahwa lebih baik berlebih daripada kurang, baik saat membeli maupun menyiapkan makanan. Pola pikir ini bisa muncul di mana saja, termasuk saat kita memesan makanan di restoran.
Fakta 5: Ada Urutan Penanganan, dan TPA Adalah Pilihan Terakhir
Badan Pangan Nasional menjelaskan bahwa pencegahan food waste dapat dilakukan secara bertahap, dengan urutan berikut:
- Mendonasikan pangan yang berlebih.
- Memanfaatkannya sebagai pakan hewan.
- Memanfaatkannya untuk industri.
- Mengolahnya menjadi kompos.
- Membuangnya ke TPA hanya sebagai pilihan terakhir.
Pesannya jelas: makanan yang masih layak santap seharusnya dimakan, bukan dibuang.
Cara Mengurangi Sampah Makanan Saat Makan di Restoran
Kabar baiknya, upaya menguranginya dapat dimulai dari hal-hal kecil yang sepenuhnya ada dalam kendali kita:
- Pesan secukupnya. Mulailah dari porsi yang sesuai dengan rasa lapar, lalu tambah menu jika masih kurang.
- Tanyakan ukuran porsi. Pramusaji dapat membantu menjelaskan porsi setiap menu sebelum Anda memesan.
- Berbagi hidangan. Saat makan bersama, pesan beberapa menu untuk dinikmati bersama agar semua orang bisa mencicipi tanpa menyisakan.
- Minta pelengkap seperlunya. Kerupuk, sambal, atau acar cukup diminta jika memang akan dimakan.
- Bungkus sisa yang masih layak. Makanan yang belum tersentuh dapat dibawa pulang, disimpan dengan baik, dan segera dikonsumsi agar tetap aman.
- Makan dengan perlahan. Makan perlahan membuat kita lebih peka terhadap rasa kenyang.
Menikmati semangkuk Bubur Ayam hangat atau seporsi Nasi Kuning di President Resto dengan porsi yang pas adalah contoh nyata bahwa kebiasaan baik tidak harus rumit.
Kesimpulan
Sampah makanan adalah masalah besar yang berawal dari kebiasaan kecil. Data Bappenas menunjukkan dampaknya terasa pada ekonomi, ketahanan pangan, dan iklim. Namun, solusi paling dekat berada di meja makan kita sendiri: memesan secukupnya, menghabiskan hidangan, dan membawa pulang sisa yang masih layak.
Jadi, kapan pun Anda singgah di President Resto atau restoran favorit lainnya, jadikan piring bersih sebagai kebiasaan baru. Satu piring yang habis memang tampak kecil, tetapi jutaan piring yang habis akan membawa perubahan nyata bagi lingkungan Indonesia.
Referensi
- Global Green Growth Institute (GGGI). (2021). Sustainable Food Waste Management Contributes to Low Carbon Development in Indonesia. https://gggi.org/sustainable-food-waste-management-contributes-to-low-carbon-development-in-indonesia/
- Tempo.co. (2021). Indonesia’s Food Waste Reach 48 Million Tons Annually, Says Bappenas. https://en.tempo.co/amp/1470569/indonesias-food-waste-reach-48-million-tons-annually-says-bappenas
- Databoks Katadata. (2024). Indonesia’s Most Abundant Food Waste Consists of Rice, Fruit, and Vegetables. https://databoks.katadata.co.id/en/consumer-services/statistics/66daabcfb0662/indonesias-most-abundant-food-waste-consists-of-rice-fruit-and-vegetables
- Databoks Katadata. (2024). Massive Food Waste in Indonesia, Value Exceeds Rp 200 Trillion Annually. https://databoks.katadata.co.id/en/economics-macro/statistics/66daabbd07695/massive-food-waste-in-indonesia-value-exceeds-rp-200-trillion-annually
- Republika. (2023, 2 Agustus). MPR Ingatkan Pemerintah Tekan Produksi Sampah Makanan di Indonesia. https://news.republika.co.id/berita/ryru9a436/mpr-ingatkan-pemerintah-tekan-produksi-sampah-makanan-di-indonesia
