President Resto : Sejarah Fakta Gado-Gado
Sejarah gado-gado selalu menarik untuk ditelusuri karena hidangan yang tampak sederhana ini menyimpan jejak pertemuan banyak budaya. Sepiring sayuran rebus dengan siraman bumbu kacang bukan sekadar menu pengisi perut, melainkan bagian dari identitas kuliner Nusantara.
Gado-gado dikenal luas sebagai makanan khas Betawi, Jakarta, dan sering dijuluki salad ala Indonesia. Namun, siapa yang pertama kali meraciknya, kapan, dan mengapa dinamai demikian? Jawabannya ternyata tidak sesederhana tampilannya, sebab asal-usul gado-gado belum memiliki catatan sejarah yang pasti.
Sebagai restoran di Palangka Raya yang menyajikan kuliner Nusantara dengan sentuhan cita rasa Oriental, President Resto mengajak Anda menelusuri sejarah dan fakta gado-gado, mulai dari asal-usul nama, teori kelahirannya, hingga statusnya sebagai kebanggaan kuliner Indonesia.
Apa Itu Gado-Gado?
Gado-gado adalah hidangan Indonesia berisi aneka sayuran yang direbus, dikukus, atau diblansir sebentar, lalu dipadukan dengan kentang, telur rebus, tahu dan tempe goreng, serta lontong atau ketupat. Seluruh bahan disiram bumbu kacang, biasanya ditaburi bawang goreng, dan disajikan bersama kerupuk atau emping.
Jiwa dari hidangan ini ada pada bumbu kacangnya. Kacang tanah goreng diulek bersama gula merah, bawang putih, cabai, garam, asam jawa, dan perasan jeruk nipis, sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas.
Asal-Usul Nama Gado-Gado: Dari Kata “Digado”
Nama gado-gado diyakini berkaitan dengan kata “digado” atau “menggado” dalam bahasa Betawi, yaitu menyantap lauk tanpa nasi. Penjelasan ini masuk akal karena gado-gado memang tidak memakai nasi sebagai bahan utama. Rasa kenyangnya datang dari lontong atau ketupat yang menjadi pendampingnya.
Menurut ulasan media kuliner nasional, pengaruh budaya Jawa pada bahasa Betawi turut menjadikan istilah ini melekat pada hidangan sayur bersaus kacang tersebut.
Tiga Teori Awal Mula Sejarah Gado-Gado
Tidak ada dokumen yang memastikan kapan gado-gado Betawi pertama kali tercipta. Karena itu, para penulis kuliner mengajukan beberapa teori yang saling melengkapi.
- Teori Kampung Tugu. Pada awal abad ke-18, sekelompok orang Portugis mendirikan permukiman yang kini dikenal sebagai Kampung Tugu. Ada anggapan bahwa kuliner yang mereka bawa ikut memperkenalkan gado-gado.
- Teori Tionghoa Batavia. Gado-gado Betawi disebut pertama kali dilestarikan oleh masyarakat Tionghoa di Batavia, dengan perkiraan masuk pada abad ke-19. Cara memasak sayuran ala Tionghoa banyak diadaptasi, dan sebagian orang meyakini mereka memodifikasi pecel Jawa agar sesuai selera.
- Teori Akar Sunda. Karena paling banyak ditemukan di Jawa bagian barat, yakni Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, gado-gado juga diduga berawal dari hidangan Sunda.
Beragamnya teori ini sejalan dengan pandangan dosen sejarah Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, bahwa kuliner Betawi mencerminkan masyarakat yang sangat hibrid dan menceritakan kebinekaan.
Mengapa Gado-Gado Disebut Salad Indonesia?
Julukan salad Indonesia muncul karena gado-gado menyajikan sayuran segar yang dipadukan dengan saus. Bedanya, porsi bumbu kacang pada gado-gado jauh lebih banyak daripada dressing salad ala Barat, sehingga setiap sayuran terbungkus rata oleh saus yang kaya rasa. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mencantumkan gado-gado sebagai salah satu makanan tradisional Jakarta.
Fakta Menarik tentang Gado-Gado
Selain sejarahnya yang penuh teka-teki, gado-gado menyimpan sejumlah fakta yang jarang diketahui:
- Satu dari lima makanan nasional. Pada 2018, Kementerian Pariwisata menetapkan gado-gado bersama soto, sate, nasi goreng, dan rendang sebagai makanan nasional Indonesia.
- Warisan Budaya Takbenda. Gado-gado Betawi, bersama soto Betawi, tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.
- Sudah mendunia sejak 1919. Seorang perantau Betawi bernama Saiman menjual gado-gado, pecel, dan masakan Jawa lainnya kepada pelanggan Eropa lewat restoran Roemah Senengati pada 1919.
- Warung legendaris masih bertahan. Gado-Gado Bon Bin di Cikini berdiri sejak 1960, sedangkan Gado-Gado Boplo sejak 1970.
- Berbeda dari saudaranya. Karedok khas Sunda memakai sayuran mentah, sementara pecel lebih lazim di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gado-gado dibedakan oleh sayurannya yang direbus serta bumbu kacang yang menyelimuti seluruh bahan.
Ragam Gado-Gado di Berbagai Daerah
Seiring perjalanannya, gado-gado melahirkan banyak versi. Gado-gado Betawi menggunakan kacang panjang, tauge, dan kol yang direbus, ditambah tahu, tempe, dan telur. Gado-gado Padang menambahkan mie kuning dan soun, dengan rasa yang cenderung lebih pedas. Sementara itu, gado-gado dari Sidoarjo menambahkan petis ke dalam bumbu kacangnya.
Cara pembuatannya pun masih mempertahankan tradisi. Bumbu kacang diulek di atas cobek, sering kali langsung di depan pembeli agar tingkat kepedasannya dapat disesuaikan.
Tips Menikmati Gado-Gado agar Lebih Nikmat
- Pilih gado-gado dengan sayuran yang matang pas, tidak terlalu lembek, agar teksturnya tetap segar.
- Minta bumbu kacang diulek langsung supaya aroma kacang dan cabainya terasa maksimal.
- Sesuaikan tingkat kepedasan dengan selera, lalu tambahkan kerupuk atau emping untuk sensasi renyah.
- Padukan dengan lontong atau ketupat jika ingin porsi yang lebih mengenyangkan.
Cita Rasa Nusantara di President Resto Palangka Raya
Pengaruh budaya Tionghoa dalam sejarah gado-gado mengingatkan kita bahwa kuliner Nusantara tumbuh dari perpaduan banyak budaya. Semangat serupa dihadirkan President Resto, yang menggabungkan kuliner Nusantara dengan sentuhan cita rasa Oriental pada hidangan seperti Bubur Ayam, Ayam Goreng Kampung, dan Nasi Kuning.
Jika Anda ingin menjelajahi kuliner Palangka Raya dengan suasana yang nyaman, kunjungi President Resto dan temukan pengalaman makan yang berkesan bersama keluarga, teman, maupun saat menikmati waktu sendiri. Informasi lengkap tersedia di presidentresto.com.
Kesimpulan
Sejarah gado-gado memang belum memiliki satu jawaban pasti. Ada yang mengaitkannya dengan permukiman Portugis di Kampung Tugu, dengan masyarakat Tionghoa di Batavia, dan dengan tradisi kuliner Sunda. Satu hal yang jelas, hidangan ini tumbuh dari pertemuan berbagai budaya dan kini menjadi kebanggaan kuliner Indonesia.
Dari namanya yang berarti makan tanpa nasi, bumbu kacangnya yang khas, hingga statusnya sebagai makanan nasional dan warisan budaya takbenda, gado-gado membuktikan bahwa hidangan sederhana bisa memiliki kisah yang luar biasa. Kini, setiap kali menyantapnya, Anda tahu bahwa di balik sepiring sayuran itu ada perjalanan sejarah yang panjang.
Referensi
- “Akulturasi Budaya Tionghoa dalam Sepiring Gado-gado Betawi.” https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/01/13/akulturasi-budaya-tionghoa-dalam-sepiring-gado-gado-betawi
- “Keragaman Kuliner Betawi sebagai Titik Temu Lintas Negara di Jakarta.” https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/07/23/keragaman-kuliner-betawi-sebagai-titik-temu-lintas-negara-di-jakarta
- “Kemenpar Tetapkan 5 Makanan Nasional Indonesia, Ini Daftarnya.” https://travel.kompas.com/read/2018/04/10/171000627/kemenpar-tetapkan-5-makanan-nasional-indonesia-ini-daftarnya
- “Pembantu dari Betawi Kaya Raya Berkat Jual Gado-Gado di Luar Negeri.” https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20240503101148-25-535453/pembantu-dari-betawi-kaya-raya-berkat-jual-gado-gado-di-luar-negeri
- “Ada yang dari Era Sunan Kalijaga, Ini Deretan Salad ala Indonesia dan Kisah Asal-usulnya.” https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/11/28/ada-yang-dari-era-sunan-kalijaga-ini-deretan-salad-ala-indonesia-dan-kisah-asal-usulnya
- “Gado-Gado, Indonesia’s Salad with Distinctive Local Flavor.” https://rri.co.id/en/culinary/2756636/gado-gado-indonesias-salad-with-distinctive-local-flavor
