President Resto : 5 Fakta Soto Surabaya
Setiap 10 November, perhatian bangsa Indonesia tertuju ke Surabaya. Kota yang dijuluki Kota Pahlawan ini tidak hanya menyimpan sejarah perjuangan, tetapi juga semangkuk hidangan yang dikenal hingga ke berbagai daerah, yaitu soto Surabaya. Kuah kuning yang hangat, suwiran ayam, dan taburan pelengkap yang gurih membuat soto ini mudah dikenali.
Menariknya, soto Surabaya menyimpan kisah yang lebih panjang daripada sekadar resep. Di dalamnya terdapat jejak pedagang Tionghoa, rempah Nusantara, dan kebiasaan makan masyarakat kota pelabuhan. Menjelang Hari Pahlawan 10 November 2026, mari kita telusuri lima fakta soto Surabaya yang jarang dibahas, sekaligus melihat bagaimana hidangan ini hadir di meja President Resto, Palangka Raya.
Fakta 1: Nama Soto Berasal dari Dialek Hokkien
Banyak orang mengira kata soto berasal dari bahasa Indonesia. Padahal, sejarawan Prancis Denys Lombard mencatat bahwa soto berawal dari hidangan Tionghoa bernama caudo atau jao to, yang populer di Semarang pada abad ke-19. Sebuah artikel ilmiah dari jurnal Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa cau berarti rumput yang merujuk pada rempah, sedangkan do berarti jeroan.
Dengan kata lain, soto yang kita kenal hari ini adalah hasil perjalanan panjang. Sup Tionghoa tersebut menyebar, lalu diolah ulang dengan bahan dan selera lokal hingga melahirkan banyak versi di berbagai daerah, termasuk soto Surabaya. Di berbagai daerah, hidangan ini dikenal dengan nama soto, sroto, coto, atau tauto.
Fakta 2: Lahir dari Pertemuan Budaya Tionghoa dan Jawa Timur
Pada awal abad ke-20, Surabaya tumbuh sebagai kota dagang yang ramai bagi etnis Tionghoa, dengan kawasan Pecinan yang berpusat di Kembang Jepun, demikian catatan Good News from Indonesia. Dari pergaulan itulah kuliner Tionghoa dan Jawa Timur saling berbaur.
Seiring waktu, kuah soto diperkaya rempah Nusantara seperti kunyit, serai, daun jeruk, dan kemiri. Hasilnya adalah hidangan yang terasa akrab di lidah, tetapi tetap membawa warisan Oriental. Perpaduan seperti inilah yang membuat hidangan ini begitu kaya karakter.
Fakta 3: Kuah Kuning dan Koya Menjadi Penanda Soto Surabaya
Soto berkuah kuning banyak dijumpai di Lamongan, Madura, dan Surabaya, sedangkan soto berkuah bening lazim ditemukan di Solo, Boyolali, dan Wonogiri. Warna kuning tersebut berasal dari kunyit.
The Jakarta Post mencatat bahwa sebutan soto ayam Ambengan sering dipakai untuk menyebut soto ayam Surabaya secara umum. Nama itu bermula dari warung Pak Sadi di Jalan Ambengan yang berdiri pada 1971 dan terkenal dengan koyanya. Lalu, apa itu koya?
- Koya adalah bubuk dari kerupuk udang dan bawang putih goreng yang ditumbuk halus.
- Koya menambah rasa gurih dan membuat kuah soto sedikit lebih kental.
- Taburan koya umumnya dijumpai pada soto Lamongan, Surabaya, dan Madura.
Apa Bedanya dengan Soto dari Kota Lain?
Untuk memahami keunikan soto Surabaya, bandingkan dengan soto dari kota lain. Soto Semarang, misalnya, dikenal dengan kuah bening yang lebih ringan serta sate kerang yang manis gurih sebagai pelengkap. Adapun resep soto ayam kuning lazim disajikan bersama telur rebus, soun, seledri, kubis, tauge, sambal, dan jeruk nipis.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu soto yang paling benar. Setiap kota menyesuaikan hidangan dengan bahan dan selera setempat.
Fakta 4: Hari Pahlawan Lahir dari Peristiwa di Kota yang Sama
Kota tempat soto Surabaya berkembang juga menjadi pusat peristiwa penting dalam sejarah nasional. Pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, untuk mengenang pertempuran rakyat Surabaya pada 10 November 1945. Sebagai monumen peringatan, Tugu Pahlawan mulai dibangun pada 10 November 1951 dan diresmikan pada 10 November 1952.
Perlu dicatat, tidak ada sumber yang menyebut soto berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut. Namun, makanan selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sebuah kota, termasuk kota yang kelak dikenang sebagai Kota Pahlawan.
Fakta 5: Soto Menyatukan Banyak Daerah
Soto hadir dalam banyak rupa. Ada soto mie, ada pula rujak soto di Banyuwangi yang menyiramkan kuah soto pada hidangan serupa rujak cingur. Sebuah ulasan Good News from Indonesia menyebut sekitar 75 variasi soto tersebar di 22 daerah.
Meski berbeda bahan dan bumbu, hampir semua soto disajikan hangat dan dinikmati bersama. Itulah sebabnya soto kerap dipandang sebagai hidangan yang menghubungkan beragam kelompok masyarakat.
Menikmati Soto Surabaya di President Resto Palangka Raya
Di President Resto, Soto Surabaya menjadi salah satu menu andalan yang dimasak dengan campuran bumbu cengkeh dan kayu manis tipis untuk menghadirkan kehangatan cita rasa Oriental. Karakter ini sejalan dengan konsep restoran yang memadukan masakan Nusantara dengan sentuhan Tionghoa.
Agar pengalaman bersantap lebih berkesan, Anda dapat mencoba urutan berikut:
- Cicipi kuahnya terlebih dahulu sebelum menambahkan sambal atau perasan jeruk nipis.
- Nikmati selagi hangat agar aroma rempahnya terasa maksimal.
- Padukan dengan nasi dan lauk pendamping sesuai selera.
Ingin mengenal sisi lain dari hidangan ini? Baca ulasan kandungan gizi di balik semangkuk Soto Surabaya dan alasan mengapa soto Surabaya bisa membangkitkan rindu dan kenangan. Daftar lengkap hidangan tersedia di halaman Menu.
President Resto berlokasi di Jl. RTA. Milono No. 11A, Palangka Raya, dan buka Senin sampai Sabtu pukul 06.00–14.00 WIB.
Cara Sederhana Memperingati Hari Pahlawan lewat Kuliner
- Ceritakan sejarah Hari Pahlawan kepada anak-anak sambil makan bersama keluarga.
- Kenali asal-usul hidangan yang Anda santap, misalnya soto dari Kota Pahlawan.
- Dukung usaha kuliner lokal di kota Anda.
Kesimpulan
Soto Surabaya bukan sekadar sup ayam berkuah kuning. Ia adalah catatan perjalanan budaya: berawal dari dapur Tionghoa, diperkaya rempah Nusantara, lalu berkembang menjadi ikon kuliner Kota Pahlawan. Saat memperingati Hari Pahlawan, menyantap semangkuk soto Surabaya dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal kota yang sejarahnya melekat kuat dalam ingatan bangsa.
Referensi
- Merahputih. Soto, Kuliner Perekat Antar-Bangsa. https://www.merahputih.com/post/read/soto-kuliner-perekat-bangsa
- Jurnal Canrea, Universitas Hasanuddin. Artikel tentang asal istilah soto. https://agritech.unhas.ac.id/ojs/index.php/canrea/article/download/680/292/3040
- Good News from Indonesia. Mencicip Kuliner Akulturasi Jawa-Tionghoa di Kota Pahlawan. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/05/31/mencicip-kuliner-akulturasi-jawa-tionghoa-di-kota-pahlawan
- JatimTimes. Makanan yang Dikira Asli Indonesia, Ternyata Punya Jejak dari Luar Negeri. https://jatimtimes.com/baca/3331341612/20260410/205200/privacy
- Orami. Varian Resep Soto Ayam Kuning. https://www.orami.co.id/magazine/resep-soto-ayam-kuning
- The Jakarta Post. Twenties: The Diverse Flavors of Soto Across Indonesia. https://www.thejakartapost.com/paper/2022/08/21/twenties-the-diverse-flavors-of-soto-across-indonesia
- Kompas TV. Mengapa 10 November Diperingati sebagai Hari Pahlawan. https://www.kompas.tv/article/346823/mengapa-10-november-diperingati-sebagai-hari-pahlawan-simak-sejarah-singkatnya
- Good News from Indonesia. Sejarah Singkat Pertempuran Surabaya yang Perlu Kamu Tahu. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/09/19/sejarah-singkat-pertempuran-surabaya-yang-perlu-kamu-tahu
- Soto Semarang, Kuliner Legendaris dengan Kuah Bening yang Gurih. https://rri.co.id/bogor/kuliner/2409610/soto-semarang-kuliner-legendaris-dengan-kuah-bening-yang-gurih
- Good News from Indonesia. Menikmati Akulturasi Budaya ketika Menyantap Semangkuk Soto Padang. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/04/23/menikmati-akulturasi-budaya-ketika-menyantap-semangkuk-soto-padang
