President Resto: Penyebab Karhutla, Data 10 Tahun Terakhir
Penyebab karhutla sering diringkas dengan satu kata: kemarau. Padahal data kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selama satu dekade terakhir menunjukkan cerita yang lebih rumit, yang melibatkan cuaca, jenis lahan, kebiasaan manusia, hingga penegakan hukum.
Setiap musim kemarau membawa pertanyaan yang sama: mengapa api kembali muncul di Kalimantan dan Sumatra? Pada Agustus hingga September 2026, kebakaran kembali melanda dan kabut asap memperburuk kualitas udara di sejumlah kota Kalimantan, termasuk Palangkaraya, tempat President Resto berada.
Artikel ini mengajak pembaca memahami penyebab karhutla lewat data, bukan sekadar asumsi, lalu melihat apa yang dapat dilakukan dari rumah, dapur, hingga meja makan kita.
Seberapa Luas Karhutla di Indonesia? Data 2015 hingga 2026
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang dihimpun Good Stats menunjukkan luas karhutla naik turun dari tahun ke tahun. Tahun 2015 menjadi yang terluas dalam periode 2015 hingga 2024, yakni 2,6 juta hektare. Berikut data tahun-tahun berikutnya :
- Tahun 2016 dengan luas karhutla 438.363 hektar.
- Tahun 2017 dengan luas karhutla 165.483 hektar.
- Tahun 2018 dengan luas karhutla 529.267 hektar.
- Tahun 2020 dengan luas karhutla 296.942 hektar.
- Tahun 2021 dengan luas karhutla 358.867 hektar.
- Tahun 2022 dengan luas karhutla 204.894 hektar.
- Tahun 2024 dengan luas karhutla 376.805 hektar.
- Tahun 2025 dengan luas karhutla 359.619 hektar.
- Tahun 2026 di bulan Januari–Maret dengan luas karhutla 55.324 hektar.
Tahun 2017 menjadi yang terkecil pada rentang 2016 hingga 2026, sedangkan 2018 tertinggi di antara tahun yang ditampilkan. Hanya dalam tiga bulan pertama 2026, luas karhutla sudah mencapai 55.324 hektar, mendekati luas wilayah Jakarta (66.152 hektare).
Per 14 September 2026, BNPB mencatat indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi sebesar 85.765,57 hektar. Kalimantan Barat terparah dengan 38.310,89 hektare atau 44,67% dari total tersebut.
Penyebab Karhutla: Alam, Lahan, dan Manusia
Penyebab karhutla pada dasarnya berlapis. Pakar dan data resmi menunjuk beberapa faktor berikut:
- El Nino. Pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur menurunkan curah hujan, sehingga cuaca lebih panas dan kering dan api cepat menyebar.
- Aktivitas manusia. Rijal Ramdani dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyebut pembukaan lahan dengan membakar sebagai salah satu pemicu. Tanpa El Nino, praktik itu relatif masih bisa dikendalikan, tetapi udara kering dan angin kencang membuat api sulit dijinakkan.
- Kelalaian kecil. Puntung rokok yang dibuang sembarangan atau asap untuk mengusir lebah saat mengambil madu dapat menyulut api, terlebih di gambut yang mengering.
- Jenis lahan. Menurut KLHK, dari 283.620,51 hektare lahan terbakar pada Januari hingga September 2024, sebanyak 91,12% berada di tanah mineral dan hanya 8,88% di lahan gambut. Sebagian besar (88,96%) berupa lahan tidak berhutan, terutama belukar.
Fakta terakhir kerap mengejutkan: sebagian besar luas karhutla ternyata tidak berada di hutan primer maupun gambut. Namun, gambut tetap menjadi sorotan karena apinya sulit dikendalikan dan menghasilkan asap pekat. Memahami penyebab karhutla secara utuh membantu kita tidak menyederhanakan masalah ini.
Teknologi dan Penegakan Hukum dalam Menekan Karhutla
Deteksi dini kini bertumpu pada teknologi. SiPongi, sistem informasi deteksi dini pengendalian karhutla buatan KLHK, membuat para pemangku kepentingan memakai sumber data yang sama dan terbuka untuk masyarakat. Polri memadukan aplikasi Geospatial Analytic Center dengan SiPongi, Fire Danger Rating System, Himawari milik BMKG, dan TMAT KLHK. Dari sisi hukum, Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan pada Oktober 2025 bahwa Polri menangani 86 kasus pidana karhutla dengan 83 tersangka perorangan sepanjang 2025, selain menggelar 27.621 kegiatan sosialisasi dan 11.949 patroli.
Di sisi lain, GNFI mencatat kekhawatiran bahwa penegakan hukum dapat menjerat masyarakat adat dan rakyat kecil, tetapi tumpul terhadap perusahaan besar pemegang izin lahan. Kritik ini patut didengar agar penegakan hukum terasa adil.
Asap Tidak Mengenal Batas Wilayah
Dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Pada periode kebakaran 2026, Sarawak dan Singapura mencatat kualitas udara tidak sehat akibat asap yang terbawa angin, dan ratusan sekolah di Sarawak ditutup sementara.
Di dalam negeri, kasus ISPA kumulatif nasional hingga 29 Agustus 2026 mencapai 11,5 juta, naik 45% dari 7,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencakup seluruh kasus ISPA, tetapi Kemenkes menyebut kabut asap karhutla ikut mendorong kenaikan tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan Warga?
Pencegahan tidak hanya tugas pemerintah. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang:
- Tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di dekat semak atau lahan kering.
- Tidak membakar sampah atau lahan, meski skalanya kecil.
- Memantau SiPongi serta informasi BMKG dan BPBD setempat.
- Mendukung relawan dan Masyarakat Peduli Api di lingkungan masing-masing.
Dari Lahan ke Meja Makan
Hubungan karhutla dengan kuliner mungkin tidak langsung terlihat, tetapi nyata. Bahan dasar hidangan seperti Bubur Ayam, Ayam Goreng Kampung, dan Nasi Kuning, yang menjadi menu President Resto, bergantung pada lingkungan dan lahan yang sehat. Ketika udara bersih dan lahan terjaga, kehidupan kota berjalan normal, termasuk kebiasaan sederhana berkumpul di meja makan.
Karena itu, menjaga lahan dari api adalah bagian dari menjaga hal-hal yang kita sukai: makan dengan tenang di kota yang udaranya layak dihirup.
Kesimpulan
Penyebab karhutla bukan satu faktor tunggal. El Nino dan kemarau menciptakan kondisi kering, aktivitas manusia menyulut api, dan karakter lahan menentukan seberapa sulit api dipadamkan. Data sepuluh tahun terakhir menunjukkan luas karhutla naik turun, sehingga kewaspadaan tidak boleh kendur meski satu tahun tampak lebih baik.
President Resto mengajak pembaca memulai dari hal kecil: tidak membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan rajin memantau informasi resmi. Dengan begitu, kita ikut menjaga udara yang kita hirup bersama.
Referensi
- “Tren Luas Karhutla di Indonesia, per Maret 2026 Hampir Seluas Jakarta”. https://data.goodstats.id/statistic/tren-luas-karhutla-di-indonesia-per-maret-2026-hampir-seluas-jakarta-I0vpd
- “Karhutla Menyala, Indonesia Pantang Diam Saja!”. https://www.goodnewsfromindonesia.id/ragam/alam-lingkungan/karhutla-manyala-indonesia-pantang-diam-saja
- “KLHK Optimalkan Upaya Pengendalian Karhutla”. https://m.jpnn.com/news/klhk-optimalkan-upaya-pengendalian-karhutla
- “Kurangi Kebakaran Hutan dengan Inovasi SIPONGI!”. https://menpan.go.id/site/berita-terkini/kurangi-kebakaran-hutan-dengan-inovasi-sipongi
- “Kapolri dan Menteri Kehutanan Perkuat Sinergi Tangani Karhutla di Indonesia”. https://www.industry.co.id/read/145624/kapolri-dan-menteri-kehutanan-perkuat-sinergi-tangani-karhutla-di-indonesia
- “INFOGRAFIK: Karhutla Picu Lonjakan Kasus ISPA”. https://katadata.co.id/infografik/6a991f78617e4/infografik-karhutla-picu-lonjakan-kasus-ispa
- “Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara”. https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/amp/
- “Kualitas Udara di Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya”. https://www.metrotvnews.com/read/KRXCQPjz-kualitas-udara-di-palangkaraya-masuk-kategori-berbahaya
