President Resto: Hari Pangan Sedunia 2026, Makan Tanpa Sisa
Setiap 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia. Peringatan ini mengajak kita memikirkan ulang hubungan dengan makanan: dari mana asalnya, bagaimana mengolahnya, dan apa yang terjadi pada sisanya.
Di Indonesia, salah satu tantangan yang sering luput dari perhatian adalah makanan yang terbuang. Padahal, kebiasaan kecil di meja makan, termasuk di restoran, ikut menentukan besarnya angka tersebut.
President Resto di Palangka Raya mengajak pengunjung memaknai Hari Pangan Sedunia 2026 dengan cara sederhana: makan dengan sadar, memesan secukupnya, dan menghargai setiap hidangan seperti Bubur Ayam, Ayam Goreng Kampung, dan Nasi Kuning.
Artikel ini membahas sejarah Hari Pangan Sedunia, tema tahun 2026, fakta sampah makanan di Indonesia, serta langkah praktis untuk makan tanpa sisa.
Sejarah Singkat Hari Pangan Sedunia
Hari Pangan Sedunia memperingati berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 16 Oktober 1945 di Quebec City, Kanada. FAO menyelenggarakan rangkaian peringatannya setiap tahun melalui situs resmi World Food Day.
Gagasan peringatan ini disepakati negara anggota FAO, termasuk Indonesia, dalam Konferensi FAO ke-20 di Roma pada November 1979. Peringatan rutin pada 16 Oktober berlangsung sejak 1981.
Tema Hari Pangan Sedunia 2026: Inovasi untuk Gizi Masa Depan
Untuk 2026, tema yang diusung adalah “Innovate today. Nourish tomorrow.”, yang kurang lebih berarti berinovasi hari ini demi memberi gizi bagi hari esok. Tema ini menekankan pemanfaatan sains, teknologi, dan inovasi yang dipadukan dengan pengetahuan tradisional. Tujuannya, semua orang memperoleh pangan yang cukup, beragam, aman, dan bergizi.
Menariknya, pengetahuan tradisional ikut disebut. Hidangan Nusantara seperti Nasi Kuning, yang berakar pada tradisi daerah, menjadi pengingat bahwa pangan lokal memiliki tempat penting dalam masa depan pangan kita.
Fakta Sampah Makanan di Indonesia
Kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama Waste4Change menemukan bahwa timbulan food loss and waste (FLW) di Indonesia pada 2000–2019 mencapai 23–48 juta ton per tahun. Berikut angka-angka pentingnya:
- Jumlah tersebut setara 115–184 kilogram per orang per tahun.
- Kerugian ekonominya mencapai Rp213–551 triliun per tahun, atau 4–5 persen produk domestik bruto (PDB).
- Energi pangan yang hilang setara porsi makan 61–125 juta orang per tahun.
- Menurut Badan Pangan Nasional, porsi food waste, yaitu pangan terbuang pada tahap distribusi hingga konsumsi, naik dari 39 persen pada 2000 menjadi 55 persen pada 2019.
Data terakhir menunjukkan pergeseran penting: semakin besar bagian pangan yang terbuang di tahap konsumsi, yaitu di dapur dan meja makan. Artinya, kebiasaan kita sebagai konsumen berpengaruh langsung. Kajian yang sama merekomendasikan 45 strategi dalam lima arah kebijakan, dan perubahan perilaku menjadi salah satunya.
Cara Merayakan Hari Pangan Sedunia dengan Makan Tanpa Sisa
Kabar baiknya, langkah kecil sudah cukup untuk memulai. Berikut kebiasaan yang bisa dicoba saat makan di restoran:
- Pesan secukupnya. Mulailah dari satu hidangan utama, lalu tambah jika masih lapar.
- Makan perlahan. Dengan makan lebih fokus, kita lebih mudah mengenali kapan sudah kenyang.
- Berbagi menu. Datang bersama keluarga atau teman? Pesan beberapa hidangan untuk dicicipi bersama.
- Bawa pulang makanan yang masih layak. Hidangan yang belum tersentuh sebaiknya dibungkus, bukan dibuang.
- Hargai prosesnya. Ingat bahwa setiap butir nasi berasal dari kerja petani, peternak, dan pedagang.
Hidangan President Resto yang Pas Dinikmati Tanpa Sisa
Beberapa hidangan di President Resto cocok dinikmati dengan perhatian penuh. Bubur Ayam bertekstur halus dan paling nikmat disantap selagi hangat. Ayam Goreng Kampung mengajak kita memperhatikan tekstur renyah di luar dan bumbu yang meresap ke dalam daging. Adapun Nasi Kuning menghadirkan perpaduan nasi pulen dan pelengkap yang membuat hidangan terasa lengkap.
Ketika sebuah hidangan dinikmati sampai suapan terakhir, kita sebenarnya sedang menghargai rantai panjang yang membuatnya sampai ke meja, mulai dari petani, peternak, pedagang, hingga juru masak.
Kesimpulan
Hari Pangan Sedunia bukan hanya agenda para pemimpin dunia. Peringatan ini juga undangan bagi kita semua untuk menghargai makanan, mulai dari meja makan sendiri. Dengan memesan secukupnya, makan lebih perlahan, dan membawa pulang sisa yang layak, kita ikut mengurangi pangan yang terbuang.
Bagi yang ingin memulai kebiasaan itu sambil menikmati kuliner Palangkaraya, President Resto menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Di sini, makan menjadi momen untuk menikmati rasa sekaligus mensyukuri pangan.
Referensi
- Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). “World Food Day.” https://www.fao.org/world-food-day
- Table Debates. “FAO Science and Innovation Forum (SIF 2026), 12–16 Oktober 2026.” https://www.tabledebates.org/node/16332
- Bisnis.com. “Hari Pangan Sedunia 16 Oktober: Ini Sejarah dan Tema Tahun 2022.” https://ekonomi.bisnis.com/read/20221016/99/1587938/hari-pangan-sedunia-16-oktober-ini-sejarah-dan-tema-tahun-2022
- Bisnis.com. “Limbah Makanan di Indonesia Sebabkan Kerugian Ekonomi Rp551 Triliun per Tahun.” 10 Juni 2021. https://ekonomi.bisnis.com/read/20210610/9/1403752/limbah-makanan-di-indonesia-sebabkan-kerugian-ekonomi-rp551-triliun-per-tahun
- ANTARA. “Indonesia Mulai Terapkan Strategi Pengelolaan Sampah Makanan.” https://www.antaranews.com/berita/2478269/indonesia-mulai-terapkan-strategi-pengelolaan-sampah-makanan
- Republika. “MPR Ingatkan Pemerintah Tekan Produksi Sampah Makanan di Indonesia.” 2 Agustus 2023. https://news.republika.co.id/berita/ryru9a436/mpr-ingatkan-pemerintah-tekan-produksi-sampah-makanan-di-indonesia
